Medan Makna
Harimurti (1982)
menyatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian
dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan
atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh
seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Menurut Depdiknas (2008:892) medan adalah
daerah atau lokasi. Sedangkan makna menurut Depdiknas (2008:892) adalah maksud
pembicara atau penutur. Jadi dapat disimpulkan bahwa medan makna adalah maksud
pembicara atau penutur yang dibatasi pada tingkatan tertentu. Sedangkan menurut
Kamus Linguistik (2008:151) medan makna adalah bagian dari sistem semantik
bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas alam semesta
tertentu dan yang dapat direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang
maknanya berhubungan.
Medan makna dapat
dilakukan dalam kelompok makna tentang tingkat jabatan yang mempunyai batas
melekat, nasabah keluarga, tata warga. Pendekatan medan makna secara asosiatif
berguna dalam penelitian psikolinguistik. Sedangkan pendekatan medan makna yang
sesuai dengan masing-masing untuk studi sosiolinguistik. Sebenarnya medan makna
ini bertentangan dengan pendekatan medan asosiatif makna. Medan asosiatif makna
menuntut asosiasi antara kata yang menjadi pusat dan beberapa kemungkinan
kolokasinya. Menurut Depdiknas (2008:715) kolokasi adalah asosiasi tetap antara
kata dengan kata lain dalam lingkungan yang sama. Sedangkan set menunjuk pada
hubungan psrsdikmstik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu
set dapat saling menggantikan.
Contohnya:
·
nama-nama warna
·
perabot rumah tangga
·
istilah pelayaran
·
istilah olahraga
·
istilah persahabatan
contoh
kolokasi:
1. kami
beritahukan yang tidak hadir adalah Siti, Siska, dan Ani.
2. Mereka
sedang mengheningkan cipta.
Contoh
set:
1. Banyak
warga tidak berani menggunakan kompor gas, mereka lebih suka menggunakan kayu
bakar.
2. Selamat
buat ayahnda dan kakanda.
Unsur leksikal yang
maknanya berhubungan dalam bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa
dengan bahasa yang lainya,sebab berkaitan erat dengan kemajuan budaya
masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Nama-nama perkenalan
dalam bahasa Indonesia adalah anak, cucu, cicit, piut, bapak/ayah, ibu, kakek,
nenek, moyang, buyut, paman, bibi, saudar, kakak, adik, sepupu, kemenakan,
istri, suami, ipar, mertua, menantu dan besan.
Dalam pembicaraan
tentang jenis makna ada juga istilah kolokasi, yaitu jenis makna kolokasi.
Makna kolokasi ialah makna kata yang tertentu berkenaan dengan keterikatan kata
tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasinya. Misal kata tampan,
cantik, dan indah sama-sama bermakna denotative ‘bagus’. Tetapi kata tampan
memiliki komponen atau ciri makna [+ laki-laki]sedang kata cantik memiliki
komponen atau ciri makna [- laki-laki]; dan kata indah memiliki komponen atau
ciri makna [- manusia]. Oleh sebab itu ada bentuk-bentuk pemuda tampan, gadis
cantik, pemandangan yang indah.
Pengelompokan kata
berdasarkan kolokasi dan set dapat menberikan gambaran yang jelas mengenai
teori medan makna, meskipun makna unsure-unsur leksikal itu sering bertumpang
tindih dan batas-batasnya seringkali juga menjadi kabur.
Komponen
Makna
Komponen
makna atau komponen semantik ( semantic feature, semantic property, atau
semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsure leksikal terdiri
dari satu atau beberapa unsure leksikal yang bersama-sama membentuk makna kata
atau unsur leksikal tersebut.
Minsalnya:
Kata ayah mengandung komponen makna atau
unsure makna: + insan, + dewasa, dan + kawin; dan ibu mengandung komponen makna: + insan, + dewasa, - perempuan, dan
+ kawin.
Perbedaan makna antara
kata ayah dan ibu hanyalah pada cirri makna dan komponen makna, ayah memiliki
makna “jantan” sedangkan ibu tidak memiliki makna “jantan”.
Konsep analisis dua-dua ini (lazim
disebut analisis biner) oleh para
ahli kemudian diterapkanjuga untuk membedakan makna suatu kata dengan kata yang
lain. Minsalnya: kata ayah dan ibu dapat dibedakan ada atau tidak
adanya ciri jantan.
Kesesuaian Semantis dan
Gramatis
Seorang
bahasawan atau penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya
karena dia menguasai semua kalimat yang ada di dalam bahasanya itu, melainkan
karena adanya unsur leksikal yang lain.
Kesesuaian
ciri-ciri ini bukan hanya berau pada unsur leksikal saja tetapi juga berlaku antara
unsure leksikal dan unsur gramatikal.
Daftar Pustaka
Chaer Abdul,
1994. Pengantar semantic bahasa
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
,2009. Sintaksis Bahasa indonesia. Jakarta : Rhenika Cipta
Depdiknas,
2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia :
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Djajasudarma,
Fatimah. 2009. Semantik 1: Makna Leksikal
dan Gramatikal. Bandung: Refika Aditama
Keraf Gorys,
1994. Komposisi. Jakarta : Nuansa
Indah
Kridalaksana
Harimurti, 2008. Kamus Linguistik.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Parera J.D,
2004. Teori Semantik 2. Jakarta :
Erlangga
, 2009. Dasar-dasar Analisis Sintaksis. Jakarta : Erlangga
UIR,
2013. AKLaMASI. Pekanbaru : Lembaga
Pers Mahasiswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar