Jumat, 03 Mei 2013

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

 Medan Makna

Harimurti (1982) menyatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan.  Menurut Depdiknas (2008:892) medan adalah daerah atau lokasi. Sedangkan makna menurut Depdiknas (2008:892) adalah maksud pembicara atau penutur. Jadi dapat disimpulkan bahwa medan makna adalah maksud pembicara atau penutur yang dibatasi pada tingkatan tertentu. Sedangkan menurut Kamus Linguistik (2008:151) medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas alam semesta tertentu dan yang dapat direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan.
Medan makna dapat dilakukan dalam kelompok makna tentang tingkat jabatan yang mempunyai batas melekat, nasabah keluarga, tata warga. Pendekatan medan makna secara asosiatif berguna dalam penelitian psikolinguistik. Sedangkan pendekatan medan makna yang sesuai dengan masing-masing untuk studi sosiolinguistik. Sebenarnya medan makna ini bertentangan dengan pendekatan medan asosiatif makna. Medan asosiatif makna menuntut asosiasi antara kata yang menjadi pusat dan beberapa kemungkinan kolokasinya. Menurut Depdiknas (2008:715) kolokasi adalah asosiasi tetap antara kata dengan kata lain dalam lingkungan yang sama. Sedangkan set menunjuk pada hubungan psrsdikmstik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan.
Contohnya:
·        nama-nama warna
·        perabot rumah tangga
·        istilah pelayaran
·        istilah olahraga
·        istilah persahabatan

contoh kolokasi:
1.     kami beritahukan yang tidak hadir adalah Siti, Siska, dan Ani.
2.     Mereka sedang mengheningkan cipta.
Contoh set:
1.     Banyak warga tidak berani menggunakan kompor gas, mereka lebih suka menggunakan kayu bakar.
2.     Selamat buat ayahnda dan kakanda.
Unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa yang lainya,sebab berkaitan erat dengan kemajuan budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Nama-nama perkenalan dalam bahasa Indonesia adalah anak, cucu, cicit, piut, bapak/ayah, ibu, kakek, nenek, moyang, buyut, paman, bibi, saudar, kakak, adik, sepupu, kemenakan, istri, suami, ipar, mertua, menantu dan besan.
Dalam pembicaraan tentang jenis makna ada juga istilah kolokasi, yaitu jenis makna kolokasi. Makna kolokasi ialah makna kata yang tertentu berkenaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasinya. Misal kata tampan, cantik, dan indah sama-sama bermakna denotative ‘bagus’. Tetapi kata tampan memiliki komponen atau ciri makna [+ laki-laki]sedang kata cantik memiliki komponen atau ciri makna [- laki-laki]; dan kata indah memiliki komponen atau ciri makna [- manusia]. Oleh sebab itu ada bentuk-bentuk pemuda tampan, gadis cantik, pemandangan yang indah.
Pengelompokan kata berdasarkan kolokasi dan set dapat menberikan gambaran yang jelas mengenai teori medan makna, meskipun makna unsure-unsur leksikal itu sering bertumpang tindih dan batas-batasnya seringkali juga menjadi kabur.

Komponen Makna
          Komponen makna atau komponen semantik ( semantic feature, semantic property, atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsure leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsure leksikal yang bersama-sama membentuk makna kata atau unsur leksikal tersebut.
Minsalnya:
Kata ayah mengandung komponen makna atau unsure makna: + insan, + dewasa, dan + kawin; dan ibu mengandung komponen makna: + insan, + dewasa, - perempuan, dan + kawin.
Perbedaan makna antara kata ayah dan ibu hanyalah pada cirri makna dan komponen makna, ayah memiliki makna “jantan” sedangkan ibu tidak memiliki makna “jantan”.
Konsep analisis dua-dua ini (lazim disebut analisis biner) oleh para ahli kemudian diterapkanjuga untuk membedakan makna suatu kata dengan kata yang lain. Minsalnya: kata ayah dan ibu dapat dibedakan ada atau tidak adanya ciri jantan. 

Kesesuaian Semantis dan Gramatis
Seorang bahasawan atau penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya karena dia menguasai semua kalimat yang ada di dalam bahasanya itu, melainkan karena adanya unsur leksikal yang lain.

Kesesuaian ciri-ciri ini bukan hanya berau pada unsur leksikal saja tetapi juga berlaku antara unsure leksikal dan unsur gramatikal.

Daftar Pustaka                     
Chaer Abdul, 1994. Pengantar semantic bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
                  ,2009. Sintaksis Bahasa indonesia. Jakarta : Rhenika Cipta
Depdiknas, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia : Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik 1: Makna Leksikal dan Gramatikal. Bandung: Refika Aditama
Keraf Gorys, 1994. Komposisi. Jakarta : Nuansa Indah
Kridalaksana Harimurti, 2008. Kamus Linguistik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Parera J.D, 2004. Teori Semantik 2. Jakarta : Erlangga
              , 2009. Dasar-dasar Analisis Sintaksis. Jakarta : Erlangga
UIR, 2013. AKLaMASI. Pekanbaru : Lembaga Pers Mahasiswa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar